Gembala Merawat Yang Terluka

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yesus Kristus Gembala Agung; ilustrasi oleh ChatGPT

Yesus Kristus Gembala Agung; ilustrasi oleh ChatGPT

Gembala: Merawat yang Terluka

Di tengah riuh kehidupan yang kian memadat: antara pasar yang gaduh, kantor yang menuntut, dan rumah yang menyimpan lelah, nama Yesus Kristus kembali dipanggil sebagai Gembala Agung. Ia bukan sekadar simbol iman yang jauh di langit doktrin, melainkan hadir dalam denyut keseharian: di ladang yang kering, di kota yang sesak, juga di hati manusia yang diam-diam retak. Dalam terang itu, gereja, dalam persekutuan Sinode GMIT diingatkan bahwa menggembalakan bukan sekadar tugas jabatan, melainkan panggilan untuk merawat hidup.

Sebab menggembalakan, sebagaimana diteladankan Sang Gembala, tidak berhenti pada memberi makan dan minum. Ia menuntut keberanian untuk melindungi dari bahaya yang tak selalu tampak, kesabaran untuk membalut luka yang tak selalu diakui, dan kepekaan untuk mendengar jerit yang sering tersembunyi di balik senyum liturgi. Dalam realitas sosial kita, sering kali domba-domba justru terluka bukan karena serigala di luar, melainkan karena sesama di dalam kandang: kata-kata yang tajam, sikap yang menyingkirkan, atau kuasa yang lupa diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nabi dalam Kitab Yehezkiel pernah menyuarakan teguran yang tetap relevan hingga kini:
“Celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah seharusnya gembala-gembala itu menggembalakandomba-dombanya?”
(Yehezkiel 34:2).
Dan di sisi lain, terselip janji yang menguatkan:
“Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 34:15).

Di sanalah iman bertemu dengan tanggung jawab sosial. Menjadi gembala hari ini berarti berani keluar dari kenyamanan diri, hadir di tengah luka umat, dan tidak menjadikan pelayanan sebagai panggung, melainkan sebagai pelukan. Sementara itu, menjadi domba bukan alasan untuk lemah, melainkan panggilan untuk hidup dalam kebersamaan yang saling menjaga, tidak saling melukai, tidak menyesatkan, tetapi berjalan bersama menuju padang yang hijau.

Maka, refleksi ini bukan hanya milik mimbar gereja, tetapi milik kehidupan bersama: di keluarga, di masyarakat, di ruang-ruang kecil tempat manusia saling bertemu. Sebab ketika setiap orang belajar menjadi gembala yang setia dan domba yang saling menguatkan, di situlah kehadiran Sang Gembala Agung menjadi nyata, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam cara hidup yang memulihkan.

©Heronimus Bani-Pemulung Aksara

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Simfoni Puing: Refleksi Iman di Balik Distorsi Brian Welch
MBG di Depan Buruh: Antara Angin Janji dan Dahaga Tanah
Belajar Makna Idiom, Fefaf ~ Ketika Kata Kehilangan Penjaga
Belajar Makna Idiom: Fefaf ~ Mulut: Antara Kata dan Keselamatan
Senja di Sela Pepohonan
Senja dan Pulang
Jejak Iman dan Rasul di Tanah Turki: Program Spiritual Keagamaan Pemkab Kupang
Keadilan bagi Alam yang Terluka (Berdasarkan Matius 6:26–30)

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:35

Simfoni Puing: Refleksi Iman di Balik Distorsi Brian Welch

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:01

MBG di Depan Buruh: Antara Angin Janji dan Dahaga Tanah

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:06

Belajar Makna Idiom, Fefaf ~ Ketika Kata Kehilangan Penjaga

Jumat, 1 Mei 2026 - 01:51

Belajar Makna Idiom: Fefaf ~ Mulut: Antara Kata dan Keselamatan

Senin, 27 April 2026 - 00:01

Gembala Merawat Yang Terluka

Berita Terbaru

ilustrasi konteks geografis & pendidikan di perbatasan; Gbr CHTGPT

Budaya

Guru-guru di ujung Timur Angin

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:03

Menyematkan cincin pada Sahabat; foto; SD N Loemanu

Budaya

Cincin emas simbol ketulusan cinta dan kebersamaan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:01

Konten tidak bisa disalin.