Gembala: Merawat yang Terluka
Di tengah riuh kehidupan yang kian memadat: antara pasar yang gaduh, kantor yang menuntut, dan rumah yang menyimpan lelah, nama Yesus Kristus kembali dipanggil sebagai Gembala Agung. Ia bukan sekadar simbol iman yang jauh di langit doktrin, melainkan hadir dalam denyut keseharian: di ladang yang kering, di kota yang sesak, juga di hati manusia yang diam-diam retak. Dalam terang itu, gereja, dalam persekutuan Sinode GMIT diingatkan bahwa menggembalakan bukan sekadar tugas jabatan, melainkan panggilan untuk merawat hidup.
Sebab menggembalakan, sebagaimana diteladankan Sang Gembala, tidak berhenti pada memberi makan dan minum. Ia menuntut keberanian untuk melindungi dari bahaya yang tak selalu tampak, kesabaran untuk membalut luka yang tak selalu diakui, dan kepekaan untuk mendengar jerit yang sering tersembunyi di balik senyum liturgi. Dalam realitas sosial kita, sering kali domba-domba justru terluka bukan karena serigala di luar, melainkan karena sesama di dalam kandang: kata-kata yang tajam, sikap yang menyingkirkan, atau kuasa yang lupa diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nabi dalam Kitab Yehezkiel pernah menyuarakan teguran yang tetap relevan hingga kini:
“Celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah seharusnya gembala-gembala itu menggembalakandomba-dombanya?”
(Yehezkiel 34:2).
Dan di sisi lain, terselip janji yang menguatkan:
“Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 34:15).
Di sanalah iman bertemu dengan tanggung jawab sosial. Menjadi gembala hari ini berarti berani keluar dari kenyamanan diri, hadir di tengah luka umat, dan tidak menjadikan pelayanan sebagai panggung, melainkan sebagai pelukan. Sementara itu, menjadi domba bukan alasan untuk lemah, melainkan panggilan untuk hidup dalam kebersamaan yang saling menjaga, tidak saling melukai, tidak menyesatkan, tetapi berjalan bersama menuju padang yang hijau.
Maka, refleksi ini bukan hanya milik mimbar gereja, tetapi milik kehidupan bersama: di keluarga, di masyarakat, di ruang-ruang kecil tempat manusia saling bertemu. Sebab ketika setiap orang belajar menjadi gembala yang setia dan domba yang saling menguatkan, di situlah kehadiran Sang Gembala Agung menjadi nyata, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam cara hidup yang memulihkan.
©Heronimus Bani-Pemulung Aksara









