Membaca Nunuanah dan Terus Belajar Memaknainya
Oleh: Alfina Robi’ah Adawiyah
Ada satu nasihat yang terus tertanam dalam benak saya: “Jadilah orang besar. Orang besar bukanlah mereka yang memiliki pangkat tinggi, harta melimpah, atau ilmu luas yang dikenal di mana-mana; melainkan mereka yang ikhlas mengajar mengaji walau di surau kecil di desa terpencil.”
Nasihat tersebut datang dari guru saya, KH Imam Zarkasyi. Saya memaknai frasa “mengajar mengaji” dalam nasihat Pak Zar tidak hanya sebagai kegiatan mengajarkan isi kitab suci, tetapi juga menyebarkan ilmu apa pun yang telah didapat kepada orang yang membutuhkan, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai salah satu penerima manfaat pajak rakyat melalui beasiswa penuh (fully funded) untuk pendidikan pascasarjana (S2), saya kerap merenung: apa yang bisa saya berikan kepada negara yang telah mengantar saya ke dalam dunia pendidikan tinggi selama dua tahun penuh? Hingga akhirnya, saya mendapatkan informasi mengenai program mengajar di daerah terpencil Indonesia, yaitu Pijar (Pi Mengajar) dari CT Arsa Foundation.
Awalnya saya ragu, apakah saya mampu bertahan di daerah terpencil tersebut. Saya terus menimbang keputusan hingga batas akhir pendaftaran. Sampai pada titik kesimpulan bahwa lebih baik gagal karena sudah mencoba mendaftar, daripada gagal karena tidak mencoba sama sekali.
Hanya tersedia 15 posisi guru dalam program ini. Dari seribu lebih pendaftar pada tahun 2025, saya tidak menyangka akan terpilih menjadi salah satu di antaranya. Penempatan di Pulau Timor bukanlah pilihan kami sebagai guru, melainkan amanah yang diberikan langsung oleh tim Pijar dan CT Arsa Foundation.
Ada satu pertanyaan dalam sesi wawancara yang saya yakini menjadi jembatan keberangkatan saya ke Pulau Timor, tepatnya di garis depan perbatasan Indonesia-Timor Leste. Pertanyaan itu adalah: “Apa ekspektasi Anda jika diterima dalam program mengajar di area terpencil ini?” Saya menjawab bahwa saya tidak membawa ekspektasi apa pun. Jika saya mengharapkan keindahan, mungkin satu-satunya keindahan yang akan saya dapatkan adalah pengalaman dalam petualangan perjalanan; selebihnya adalah perjuangan.
Kesempatan mengajar di garda depan perbatasan membuat saya menyadari bahwa Indonesia masih memiliki banyak titik yang membutuhkan perhatian lebih. Saya yakin, Desa Nunuanah, tempat saya bertugas, bukanlah satu-satunya daerah yang masih jauh dari kata “layak” dalam berbagai aspek.
Desa Nunuanah adalah desa yang terisolasi saat musim hujan. Akses dari timur dan barat dibatasi oleh sungai besar yang kerap banjir dan bermuara langsung ke laut. Di sisi timur terdapat Sungai Noel Fael dan di barat terdapat Sungai Sitoto. Bagian selatan desa ini dikelilingi perbukitan, sementara bagian utaranya adalah Laut Sawu. Jika musim hujan tiba, akses menjadi sangat terbatas dan pasokan bahan makanan dari luar sangat sulit dibawa masuk, sehingga masyarakat harus memperkuat sistem ketahanan pangan dari hasil kebun/ladang sendiri.
Saya tiba pertama kali tepat saat musim penghujan, yang sempat memicu kembali rasa ragu dalam diri. Saya bertanya-tanya, apakah saya sanggup melewati musim hujan di desa ini? Namun, masyarakat Nunuanah, melalui gerak-gerik dan isyarat mereka justru meyakinkan saya. Jika mereka mampu melewatinya musim hujan pada masa-masa sebelumnya dan tetap eksis, maka musim hujan pada akhir 2025 dan awal 2026 ini pun pasti bisa kami lalui bersama.
Keterbatasan akses jalan, listrik, serta jaringan telepon dan internet membuat sarana prasarana pendidikan di desa ini sangat terbatas. Apabila guru membutuhkan perlengkapan penunjang pendidikan, mereka harus mencarinya hingga ke Kota Kupang. Perjalanan dari Desa Nunuanah ke Kupang bukanlah perkara mudah; kami harus menyeberangi sungai yang meluap, melintasi jalan berlubang dan berbatu, dengan waktu tempuh sekitar 10 jam menggunakan mobil sewaan yang disebut travel. Mungkin inilah perjuangan yang menjadi “ekspektasi” saya di awal program.
Menjadi suatu rasa syukur yang mendalam bagi saya dapat mengabdi di UPTD SD Negeri Leomanu, di Desa Nunuanah Kecamatan Amfoang Timur. Sekolah ini tidak hanya didukung oleh guru lokal, tetapi juga dibangun dengan semangat kemajuan oleh guru-guru yang juga berasal dari luar desa. Syukur saya kian bertambah karena saat saya tiba, jaringan internet di sekolah sudah sangat memadai berkat bantuan Starlink dari CT Arsa Foundation. Hal ini tidak hanya mempermudah komunikasi dengan keluarga, tetapi juga memicu semangat saya untuk mengabarkan kepada dunia bahwa sekolah dengan kondisi seperti ini masih eksis di Indonesia.
Hati saya miris melihat anak-anak belajar di kelas beratap daun tanpa dinding. Saat musim hujan, kelas tersebut digenangi air. Kala itu, saya hanya berdoa, “Tuhan, mungkin musim hujan tahun depan saya tidak lagi bertugas di sini, tapi tolong jangan biarkan anak-anak belajar di kelas yang kebanjiran lagi.”
Dengan menyuarakan keterbatasan ini melalui unggahan reels dan video TikTok, sekolah ini akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah. Kini, UPTD SD Negeri Leomanu dijadwalkan untuk pembangunan gedung kelas baru melalui program revitalisasi sekolah.
Terima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang akhirnya membuka mata untuk sekolah ini. Terima kasih sedalam-dalamnya pula kepada netizen Indonesia yang peduli terhadap pendidikan dan turut membantu bersuara melalui akun media sosial mereka. Mohon doakan kami agar selalu sehat, terus berkembang, dan tetap semangat memajukan desa serta sekolah-sekolah di dalamnya. Semoga revitalisasi ini terealisasi dengan lancar dan menjadi berkah bagi anak-anak di UPTD SDN Leomanu. Amin.
Salam hangat dari Nunuanah!
Editor: Heronimus Bani








