Artikulasi dan Getaran Gendang Telinga

Senin, 11 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi AI; suasana LCC 4 Pilar Kebangsaan

ilustrasi AI; suasana LCC 4 Pilar Kebangsaan

Artikulasi dan Getaran Gendang Telinga

Pada satu ruang lomba cerdas cermat tingkat provinsi untuk mengeliminir peserta menuju tingkat nasional, pengetahuan dipertarungkan bukan hanya lewat isi kepala, melainkan juga lewat bunyi kata-kata. Seorang siswa menjawab benar. Namun jawaban itu dianggap keliru sebab artikulasinya dinilai tidak jelas. Nilai minus lima pun jatuh seperti palu kecil yang memukul mental seorang anak muda. Kesempatan berpindah kepada regu lain. Anehnya, jawaban yang terdengar sama persis justru diberi nilai sepuluh. Ketika protes muncul, penjelasan yang datang bukanlah jembatan yang menenangkan, melainkan tembok yang menegaskan kuasa: “Biasakan menjawab dengan artikulasi yang jelas!”

Barangkali di situlah kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya: jelas menurut siapa?

Indonesia tidak dibangun dari satu bunyi lidah. Negeri ini lahir dari ribuan cara manusia mengucapkan huruf hidup dan huruf mati. Ada bunyi /e/ yang ditekan keras di timur, ada /o/ yang bulat di tengah nusantara, ada /r/ yang bergetar kuat di sebagian daerah dan melembut di tempat lain. Lidah orang Timor tidak sepenuhnya sama dengan lidah orang Jawa. Cara bicara orang Batak tidak identik dengan orang Bugis. Tekanan dinamika vokal dan konsonan 0rang di Indonesia Timur berbeda-beda, bahkan dalam satu pulau bunyi dapat berubah hanya karena dipisahkan bukit, sungai, dan sejarah kampung. Demikian adanya di Indonesia Barat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, artikulasi sesungguhnya bukan hanya urusan mulut, tetapi juga urusan telinga. Tidak cukup meminta peserta berbicara jelas, jika gendang telinga para pendengar tidak dibiasakan mendengar keragaman bunyi manusia Indonesia. Sebab sering kali yang disebut “tidak jelas” hanyalah sesuatu yang “tidak terbiasa didengar”.

Di ruang-ruang nasional, kita kadang tanpa sadar memakai ukuran pusat untuk menilai pinggiran. Logat tertentu dianggap baku, sementara logat lain diperlakukan seperti gangguan teknis. Padahal aksen adalah jejak sejarah dan kebudayaan. Ia lahir dari cara suatu masyarakat hidup bersama alamnya, dari bahasa ibu yang diwariskan nenek moyang, dari bentuk mulut yang sejak kecil akrab dengan bunyi tertentu. Menertawakan atau merendahkan artikulasi seseorang sesungguhnya sama dengan meremehkan perjalanan budaya yang membentuk dirinya.

Tentu, kejelasan berbicara tetap penting. Dalam dunia pendidikan, komunikasi memang membutuhkan ketepatan. Namun ketepatan tidak boleh berubah menjadi keseragaman yang memaksa semua anak berbicara dengan irama yang sama. Pendidikan seharusnya melatih dua hal sekaligus: melatih siswa mengucapkan kata dengan baik, dan melatih pendengar memiliki keluasan telinga untuk memahami keragaman manusia.

Sebab bangsa besar bukanlah bangsa yang seluruh warganya berbicara dengan bunyi seragam, melainkan bangsa yang mampu saling mendengar di tengah perbedaan bunyi.

Mungkin anak SMA yang nilainya dipotong itu akan mengingat kejadian tersebut sepanjang hidupnya. Barangkali ia akan belajar bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup; kadang seseorang juga harus berjuang agar logatnya diterima. Namun semoga para juri, guru, dan kita semua juga belajar sesuatu: bahwa keadilan bukan hanya soal benar atau salahnya jawaban, tetapi juga tentang kerendahan hati untuk mendengar manusia lain dengan seluruh keberagamannya.

Karena di negeri kepulauan ini, persatuan bukan pertama-tama dibangun oleh kesamaan bunyi suara, melainkan oleh kesediaan untuk saling memahami getaran gendang telinga masing-masing.

 

 

Heronimus Bani-Pemulung Aksara

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar
KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar
Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban
ITB Hadirkan Alat Monitoring Lingkungan di Batnun
Fetof~Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-laki Dalam Struktur
Sungai yang Mengajari Kami Pulang
1.300 Karya Disaring, Siswi SMKN 4 Kupang Masuk Sembilan Besar Kompetisi Pidato AHY Muda
Evaluasi HUT RI ke-81 Amarasi Selatan: Sukses dan Panitia Resmi Dibubarkan

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 05:21

Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar

Kamis, 17 September 2026 - 04:49

KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar

Kamis, 17 September 2026 - 04:28

Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

Selasa, 15 September 2026 - 10:21

ITB Hadirkan Alat Monitoring Lingkungan di Batnun

Sabtu, 12 September 2026 - 10:48

Fetof~Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-laki Dalam Struktur

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.