Seorang guru di Kabupaten sedang memasuki masa pensiun dalam fungsi sebagai Pengawas Pembina. Berikut ini puisi yang ditulis dan dibacakan pada saat acara pelepasannya.
Ia berjalan tanpa riuh,
menapaki jalan panjang yang dibentangkan zaman
jalan yang kadang berdebu, kadang berbatu, sungai berliku,
jembatan putus, sabana menghijau sebentar, dan angin pengubah arah,
namun, tak pernah ia ukur dengan keluh.
Tahun 1986 menjadi mula ziarahnya,
ketika kakinya pertama kali berpijak di Busalangga,
di tanah Rote yang kala itu masih bernaung
dalam pelukan Kabupaten Kupang,
bersama Sabu yang jauh di seberang laut.
Di sana, angin asin dan debur ombak, pohon tuak dan gula manisnya
otak Rote dan tarian foti kebalai, domba, tenunan dan kerajinan perak
menjadi saksi sunyi, bahwa seorang guru muda sedang menanam harapan
di ladang tentu sedang menjanjikan.
Ia tidak datang dengan kata-kata besar,
tidak pula dengan janji yang menggelegar,
ia hanya membawa kesetiaan,
dan keyakinan bahwa setiap anak adalah masa depan
yang harus disentuh dengan keikhlasan hati.
Waktu bergerak pelan namun pasti,
dan tahun 1989 memanggilnya ke Oebola.
Ia kembali menyeberangi Puku’afu
Seperti burung yang tidak memilih dahan,
ia hinggap di mana tugas menanti.
Lalu 1990, langkahnya berlanjut ke GMIT Camplong 1,
di sana ia mengajar, bukan hanya huruf dan angka,
tetapi juga arti ketekunan dalam hidup sederhana.
Empat tahun berselang, 1994,
ia tiba di Lili, bagai satu persinggahan
yang kemudian menjadi rumah pengabdian.
Di ruang-ruang kelas, ia menulis kisah panjang tentang kesabaran,
tentang bagaimana ilmu bukan sekadar dipindahkan,
melainkan ditumbuhkan.
Dan pada tahun 2003,
tangan yang terbiasa menulis di papan tulis itu
dipercaya memegang arah menjadi kepala sekolah.
Namun ia tetap sama: tidak meninggikan suara,
tidak menuntut pujian, hanya bekerja dalam diam
seperti akar yang menguatkan pohon
tanpa pernah terlihat.
Langkahnya kembali meluas pada 2012,
ketika ia dipercaya menjadi pengawas
di Kecamatan Fatuleu, hingga menjangkau Fatuleu Tengah.
Ia tidak lagi hanya menata satu sekolah,
tetapi menjaga nyala di banyak tempat
menjadi mata yang melihat,
menjadi hati yang mengingatkan,
bahwa pendidikan adalah api
yang tidak boleh padam.
Tahun demi tahun mengalir,
seperti musim yang silih berganti
di tanah Timor Barat yang keras namun setia.
Hingga 2026 tiba,
satu titik yang oleh khalayak disebut akhir,
namun baginya,
ini hanyalah gerbang menuju sunyi yang berbeda.
Ia bukan lelaki yang gemar bercerita,
tidak menulis namanya di batu-batu besar,
tidak pula mengumandangkan kesuksesan.
Namun jejaknya hidup
ada pada langkah para murid,
di sekolah-sekolah yang tetap berdiri,
pada mereka yang sudah mampu berdikari
di kenangan yang diam-diam tumbuh
di hati banyak orang.
Ia adalah kisah tentang kerja tanpa gemuruh,
tentang pengabdian tanpa pamrih,
tentang hidup yang dijalani
dengan kesederhanaan yang teguh.
Terima kasih atas jasa dan pengabdian
yang telah ditaburkan sepanjang waktu,
yang mungkin tak selalu terlihat,
namun terasa dalam kehidupan banyak insan.
Selamat menempuh masa baru: pensiun
masa di mana pagi tidak lagi tergesa,
di mana langkah boleh diperlambat,
dan di mana kenangan menjelma cahaya
yang akan terus menerangi hari-hari yang akan datang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis: Pemulung Aksara~Heronimus Bani








